Malam Minggu


Malam Minggu identik dengan hari spesial bagi orang-orang pada umumnya, kebanyakkan tersebut adalah bepergian baik itu dengan teman, sahabat, bahkan pacar yang paling mungkin sering terjadi, tentunya semua itu hanya dirasakan oleh kaum remaja yang masih bersemangat muda, namun berbeda dengan diriku, tidak tahu alasan kenapa, tapi menurutku hari tersebut tidak ada yang spesial, sama saja..

“Mana semangatmu nih, Vin?” Tanya Nik.

Aku hanya terdiam dalam lamunanku. Sementara..

“Vin, kita kesana yuk, santai-santai disana.” Kata Nik.

Aku hanya terdiam dan menggangguk perlahan..

“Menyenangkan ya?” Tanya Nik.

Aku hanya terdiam dan mengangguk saja..

“Nik.” Sapa Vin.

“Iya?” Tanya Nik.

“Kamu itu berbeda ya.” Jawab Vin.

“Berbeda, maksudnya.” Tersenyum Nik.

Aku seperti seakan Nik tahu dan merasakan bahwa Nik dapat memahami maksud yang aku utarakan..

“Berbeda, kamu orang yang sangat suka keluar bepergian, selain itu juga.” Kata Vin.

“Selain itu?” Tanya Nik.

“Selain itu, kepada siapa saja pun, kamu dapat beradaptasi dengan cepat bersama lingkungan tersebut.” Jawab Vin.

“Begitu?” Tanya Nik.

“Iya.” Jawab Vin.

“Kalau begitu, kamu salah besar..” Ucap Nik.

“Eh, kenapa?” Tanya Vin.

“Karena aku juga punya masalah hidupku.” Jawab Nik.

“Masalah keluarga?” Tanya Vin.

“Bukan.” Jawab Nik.

“Masalah sekolah?” Tanya Vin.

“Bukan.” Jawab Nik.

“Masalah apa?” Tanya Vin.

“Masalah pribadi.” Jawab Nik.

Angin bertiup pada Malam tersebut dengan sepoi-sepoi yang membuat suasana tersebut juga jadi berbeda yang setiap kali kuhabiskan bersama teman dekatku, Nik..

“Masalah pribadi?” Tanya Vin.

“Iya.” Jawab Nik.

“Begitu..” Ucap Vin.

Aku memalingkan kepala ku ke arah depan dan mendongak ke atas sambil mengamati bintang-bintang bersinar..

“Kamu tidak tanya, kenapa, apa, atau bagaimana?” Tanya Nik.

“Jika itu masalah pribadi, aku pun tidak berani untuk bertanya, kecuali.” Jawab Vin.

“Terkecuali aku yang mengatakannya sendiri, kamu memang orang yang menarik, karena itu lah yang membuatku suka..” Ucap Nik.

“Aku pikir selama ini, kamu menganggapku orang membosankan?” Tanya Vin.

“Tidak sama sekali Vin, tepatnya lagi tidak ada yang namanya orang membosankan.” Jawab Nik.

“Begitu ya.” Tersenyum Vin.

“Iya, karena dalam sebuah kehidupan, setiap orang memiliki karakteristik menarik..” Ucap Nik.

“Menarik ya.” Kata Vin.

“Iya. Karena kamu menarik, aku bersedia menceritakannya hanya kepadamu, sobat.” Kata Nik.

“Baik, silahkan.” Kata Vin.

“Aku sebenarnya sama seperti kamu Vin..” Ucap Nik.

Angin bertiup kembali namun berasa kencang..

“Tidak mungkin..” Ucap Vin.

Aku tahu dan mengenal Nik sejak lama bahkan sebelum masuk Sekolah bersama, aku sudah sangat mengenalnya dengan baik tentang karakteristiknya, Nik orang yang sangat pro-aktif, sedangkan aku adalah sebaliknya..

“Aku sudah menduganya, kamu berkata begitu.” Kata Nik.

“Kamu serius?” Tanya Vin.

“Iya, Vin, aku serius.” Jawab Nik.

Aku terdiam..

“Aku orang yang membenci dengan kehidupan luar apalagi bepergian kemana-mana, tapi.” Kata Nik.

“Tapi?” Tanya Vin.

“Sesuatu hal kemudian mengubah hidupku, tepatnya pada Malam Minggu ini.” Jawab Nik.

Aku terdiam kembali..

“Aku bertemu dengan seorang yang sama seperti mengingatkanku kembali tentang hidupku pada masa-masa hidupku dahulu, aku berpikir, aku adalah orang yang paling berbeda dengan karakteristik yang dimiliki dari antara yang lain.” Kata Nik.

Aku terdiam membisu..

“Orang itu adalah kamu, Vin. Kamu sudah mengubah hidupku perlahan.” Kata Nik.

“Sejak kapan? Aku tidak pernah merasakannya.” Kata Vin.

“Iya, sejak kamu selalu ada dan datang ketika aku membutuhkanmu, tentu kamu tidak menyadarkannya, hanya aku yang merasakannya.” Kata Nik.

“Begitu..” Ucap Vin.

“Iya, setiap kali kita menghabiskan waktu bersama pada Malam ini, itu memberikan motivasi terbesar hidupku.” Kata Nik.

“Nik.” Kata Vin.

“Karena itu aku menyebutkanmu adalah orang yang menarik.” Kata Nik.

“Nik.” Kata Vin.

“Iya?” Tanya Nik.

“Maafkan aku.” Jawab Vin.

“Maaf, kenapa?” Tanya Nik.

“Karena aku berbeda denganmu.” Jawab Vin.

“Tidak masalah, aku lebih menyukai dirimu yang sebenarnya.” Kata Nik.

“Aku selalu beranggapan Malam Minggu adalah hari yang sama saja seperti pada biasanya, namun aku tidak menyadari bahwa Malam Minggu itu.” Kata Vin.

“Malam Minggu itu?” Tanya Nik.

“Malam Minggu itu spesial.” Jawab Vin.

“Spesial ya?” Tanya Nik.

“Iya, benar.” Jawab Vin.

Aku tidak menyadarkan sesuatu yang bersinar dan selalu berada di dalam hidupku..

“Kamu tahu, maksudku, spesial?” Tanya Vin.

“Maksudmu, aku?” Tanya Nik.

“Iya, kamu adalah spesialnya.” Jawab Vin.

“Terima kasih.” Tersenyum Nik.

“Terima kasih juga.” Tersenyum Vin.

Dari sudut pandang berbeda, aku dan Nik memiliki karakteristik menarik, aku mulai menyebutkan Malam Minggu bukan sekedar kita untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang tercinta, tapi bagaimana kita mengisi waktu tersebut secara berharga, baik itu kepada teman, sahabat, bahkan pacar yang tercinta..


Malam Minggu


photo credit: Rise of the disruptors: Tonight's the night via photopin (license)

Postingan terkait:

4 Tanggapan untuk "Malam Minggu"

  1. ceritanya sama kayak alur hidup saya, hehehe.... jadi terbawa suasana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih kesempatannya disini mengunjungi hari bertepatan lagi dengan cerita yang tertulis, semoga kesan dan pesan dapat tersampaikan benar adanya.. :)

      Hapus
  2. Malam minggu sebenernya sama aja kek malam-malam yang lain, cuma waktunya aja yang pas soalnya besok libur.

    Baca-baca tulisannya bikin senyum sendiri, manis banget. Salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malam Minggu memang begitu, tapi bagaimana kita memperlakukan hari biasa tersebut dengan secara istimewa, hari tersebut mempunyai makna yang tersendiri, salam kenal.. :)

      Hapus

Budayakan Membaca Sebelum Berkomentar