Teman Sebaya


Semua pasti memiliki teman yang sebaya, itu lah yang kupikirkan, baik itu dari usia masa seorang masih anak-anak hingga menuju masa dewasanya, aku pun merasakannya saat ini namun dia berlawanan jenis dariku, kadang kala di Sekolah yang penuh dengan kehebohan, aku merasa sedikit terganggu, tapi aku harus menerima kenyataan tersebut, karena itu lah kenyataannya.. 

“Eh, Tino.” Sapa Tina.

“Iya?” Tanya Tino.

“Hari ini kita ke Kantin sama-sama yuk.” Jawab Tina.

“Bukannya setiap kali juga, begitu kan?” Tanya Tino.

“Eh, benarkah?” Tanya Tina.

“Iya.” Jawab Tino.

Namanya Tina, merupakan teman sebaya di Kelasku, karena kehebohan dengan nama yang seperti ada suatu hubungan keluarga, dengan alasannya itu sendiri memiliki kemiripan, menjadi bahan pembicarakan teman-teman sekelasku, tentu saja aku menolak pembicaraan tersebut, karena kenyataannya aku tidak ada hubungan keluarga atau ikatan lebih lainnya antara aku dan Tina, aku dan Tina hanya teman sebaya sama seperti yang lainnya..

“Maaf, Tino.” Kata Tina.

“Iya, tak apa.” Kata Tino.

Seperti biasanya, aku dan Tina pun ke Kantin bersama-sama. Aku menyukai makanan dan minuman disana, karena alasan itu juga yang mungkin, Kantin tersebut menjadi tempat populer bagi kalangan pelajar-pelajar Sekolah, walaupun aku menyukainya, namun aku tidak begitu menyukai Tina sebagai teman sebayaku, karena mungkin hubunganku dengan Tina tidak memiliki ikatan yang spesial, yang sebatasnya hanya sebagai teman sebayaku. Namun sebaliknya..

“Tino, enak ya?” Tanya Tina.

“Iya, begitulah.” Jawab Tino.

“Kita kesana lagi yuk.” Kata Tina.

“Iya.” Kata Tino.

Tina menganggapku mungkin hanya satu-satunya teman berharga bagi dirinya, karena tidak ada teman sebaya lainnya bagi dirinya, kecuali aku yang saat ini menemaninya..

“Wah, segar sekali.” Puas Tina.

“Iya.” Kata Tino.
“Udara ini terasa nyaman.” Kata Tina.

“Iya, karena kita kan berada di Lingkungan Sekolah.” Kata Tino.

“Iya, karena itu yang membuatku sangat betah merasakannya.” Kata Tina.

“Begitu.” Kata Tino.

“Iya, walaupun itu sudah terulang kali, asal dia selalu berada di dekatku..” Ucap Tina.

Aku berpikir yang diucapkan Tina adalah tertuju padaku yang merupakan salah satunya teman sebaya bagi Tina..

“Tapi..” Ucap Tino.

“Tapi, kenapa Tino?” Tanya Tina.

“Tak apa.” Jawab Tino.

“Oh.” Kata Tina.

Aku selalu ingin mengucapkan hal ini, namun aku takut pengucapan ini merusak hubunganku dengan Tina, tapi bila memendam terlalu lama juga akan menjadi kesulitan terbesar bagi hidupku, kemudian aku putuskan..

“Tapi, Tina, aku tidak terlalu merasakannya..” Ucap Tino.

Angin bertiup dengan lemah lembut membuat udaranya terasa sangat sejuk..

“Begitu..” Ucap Tina.

“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Tino.

“Tidak apa.” Jawab Tina.

“Serius nih?” Tanya Tino.

“Iya.” Jawab Tina.

“Maaf loh.” Kata Tino.

“Iya.” Kata Tina.

“Kita sudah berteman dengan cukup lama, namun walaupun aku tahu kamu itu teman sebayaku, namun aku tidak begitu merasakan pengaruhnya itu padaku.” Kata Tino.

“Kamu berpikir terlalu mencolok seperti pelajar.” Tersenyum Tina.

“Begitu kah?” Tanya Tino.

“Iya, ini yang membuatku tertarik.” Jawab Tina.

“Tertarik?” Tanya Tino.

“Iya, walaupun kita memiliki perbedaan mencolok, namun sesungguhnya kita terdapat satu kesamaan, hal itu lah yang aku rasakan.” Jawab Tina.

Ketika aku berpikir kembali perkataan Tina..

“Aku juga tahu dan mengerti kok, kalau kamu tidak merasakannya.” Kata Tina.

“Lalu?” Tanya Tino.

“Sudah begitu saja.” Jawab Tina.

“Begitu saja? Tapi.” Kata Tino.

“Kamu ingin aku menjawab pertanyaanmu tadi?” Tanya Tina.

“Iya.” Jawab Tino.

“Kamu kan pelajar, jadi kamu bisa tahu sendiri.” Tersenyum Tina.

Aku terdiam dan sambil melanjutkan berjalan yang diikuti oleh Tina yang berada di depanku, aku memikirkan perkataan Tina, namun aku belum sama sekali mengerti dan menemukan jawabannya dari pertanyaannya, kesamaan apa yang dimaksudkan oleh Tina terhadapku..

“Sudah, Tino, jangan terlalu keras berpikir.” Kata Tina.

“Tapi aku harus menemukan jawaban itu.” Kata Tino.

Tina memandang dan mengamatiku dari tadi yang seakan seperti mengetahui apa saja yang ada di pikiranku..

“Begitu, apa aku harus memberitahukannya saja?” Tanya Tina.

“Tidak..” Ucap Tino.

“Tidak?” Tanya Tina.

“Iya.” Jawab Tino.

“Yakin?” Tanya Tina.

“Iya.” Jawab Tino.

“Baiklah, kalau begitu.” Kata Tina.

“Aku akan berusaha menemukannya.” Kata Tino.

“Baik, aku tunggu.” Kata Tina.

“Iya.” Kata Tino.

Aku berpikir, Tina tidak seperti biasanya untuk kali ini, mungkin karena aku mengutarakan hal yang tidak pernah kuberikan kepadanya pada sebelumnya..

“Tino, kita kesana, yuk.” Tunjuk Tina.

Tina menunjuk ke tempat yang lagi-lagi sudah sering dan selalu habiskan waktu bersamanya, namun aku berhenti berpikir..

“Padahal kita tidak memiliki suatu ikatan yang lebih, hanya sebatas teman sebaya, tapi mengapa hanya kepadaku, kamu berbuat begitu sejauhnya sepertinya membebankanku?" Tanya Tino.

“Tino.” Jawab Tina.

“Hanya suatu kesamaan yang kita miliki, sama-sama hidup dengan karakteristik unik, apa hanya itu yang membuatmu tertarik?” Tanya Tino.

“Iya.” Jawab Tina.

“Tapi walaupun sudah kuketahui satu hal, tetap saja belum dapat menemukan jawabannya.” Kata Tino.

“Tino, sesungguhnya bagiku, kamu sudah menemukan jawabannya, karena dapat kurasakan." Kata Tina.

“Begitu.” Kata Tino.

“Iya, makna dari teman sebaya yang sesungguhnya walaupun itu anggapan sebatas teman..” Ucap Tina.

“Makna teman sebaya yang sesungguhnya ya..” Ucap Tino.

“Iya, melakukan setiap kali dan secara terulang kali, merasa jauh tapi selalu berada dekat..” Ucap Tina.

“Merasa jauh tapi selalu berada dekat..” Ucap Tino.

“Iya, inginku katakan, teman sebaya itu adalah bermakna..” Ucap Tina.

“Walaupun itu adalah teman sebaya..” Ucap Tino.

Aku merasakan dan menyadarkan bahwa selama waktu hidupku yang kuhabiskan seiring waktu yang berjalan di dalam kehidupan Sekolah, memiliki teman-teman sebaya yang saling menghabiskan waktunya dengan kehebohan yang dimilikinya namun berdasarkan caranya masing-masing mereka, walaupun ikatan itu tidak berasa spesial, merasa jauh tapi selalu berada dekat, dan walaupun itu adalah teman sebaya.. 


Teman Sebaya 


photo credit: Annabelle's Birthday Party via photopin (license)

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Teman Sebaya"

  1. Teman sebaya itu adalah segalanya jadi bisa merasakan apa yang tidak orang lain bisa rasakan bahkan bisa lebih dari seorang pacar seperti yang di bahas di atas teman sebaya walaupun jauh tapi terasa dekat karena teman sebaya pasti selalu ada saat kita dalam keadaan apapun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin ya begitu, teman sebaya. Walaupun sebatas teman biasa dan yang kita kenal hanya sekilas, namun teman sebaya pun sangat berperan penting dalam kehidupan.. :)

      Hapus

Budayakan Membaca Sebelum Berkomentar