Gelembung Cinta



"Pecah, pecah, pecah.. Gelembung itu pecah.." Ucap Nino. 

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Mala.

“Aku sedang melihat gelembung.” Jawab Nino.

“Gelembung..” Ucap Mala.

“Iya, ada apa?” Tanya Nino.

“Indah ya..” Ucap Mala.

“Iya..” Ucap Nino.

Mala dan Nino saling bertatapan mata dan tersenyum..

“Hai Nino, Mala.” Sapa Sari.

“Hai.” Sapa Nino dan Mala.

“Apa yang kalian berdua lakukan disini?” Tanya Sari.

“Kami.” Jawab Nino dan Mala.

“Tunggu-tunggu, biar kutebak.” Kata Sari.

Nino dan Mala terdiam..

“Pasti ada sesuatu nih.” Senyum Sari.

“Ada apa?” Tanya Mala.

“Kasih tahu, enggak ya?” Senyum Sari.

“Kasih tahu lah.” Kata Mala.

“Tidak perlu dikasih tahu, sudah tahu juga kok, tentang hubungan kalian berdua.” Kata Sari.

Mala mengejar Sari, Nino terdiam dengan tersenyum memandang Mala dan Sari..

“Nino.” Sapa Sari.

“Iya?” Tanya Nino.

“Enggak ikut?” Tanya Sari.

“Enggak.” Senyum Nino.

“Serius?” Senyum Sari.

“Iya.” Jawab Nino.

Dari bilik jendela itu, gelembung-gelembung yang berterbangan di udara tersebut saling pecah secara perlahan..

“Terima kasih sudah meniup gelembungnya, Mana..” Ucap Nino.

“Terima kasih kembali.” Kata Mana.

Nino terdiam tersenyum memandang Mana yang berjerih payah meniup gelembung..

“Nino, boleh bicara sebentar.” Kata Mana.

“Silahkan.” Kata Nino.

“Bagaimana pendapat Nino dengan, Mana?” Malu Mana.

“Mana?” Bingung Nino.

“Iya, katakan!” Malu Mana.

“Mana sama seperti dengan yang lainnya..” Ucap Nino.

“Yang lainnya?” Bingung Mana.

“Iya.” Jawab Nino.

Nino memandang ke arah Sari dan Mala yang masih berkejaran..

“Begitu ya..” Ucap Mana.

“Iya..” Ucap Nino.

Mana meniup gelembung-gelembung tersebut dengan secara perlahan kembali..

Nino, Mala, Sari, dan Mana memiliki ikatan yang spesial serta juga rumit. Hubungan mereka berempat sudah terjalin cukup lama..

Walaupun Mana terlihat berbeda daripada teman-teman lainnya, Mana hanya mau berbicara dengan Nino karena Mana adalah orang yang pemalu..

Hari per hari dilalui bersama dengan tenang dan baik-baik saja oleh Nino dengan ketiga temannya itu hingga ikatan spesial serta juga rumit itu semakin memuncak dan mempertemukan mereka berempat pada hadapan di sebuah Ruangan tersebut kembali..

“Nino sudah sangat lama, kita berteman, bagaimana pendapatmu tentang Mala?” Tanya Mala.

“Mala sama seperti dengan yang lainnya.” Jawab Nino.

“Hanya begitu?” Tanya Mala.

“Iya.” Jawab Nino.

“Nino sama seperti biasanya.” Kata Sari.

“Iya.” Kata Nino.

“Karena biasanya, membuatku khawatir.” Kata Sari.

“Khawatir?” Tanya Nino.

“Aku selalu ingin berada di sampingnya.” Kata Sari.

“Sari?” Tanya Mala.

Nino terdiam sejenak sambil memandang gelembung-gelembung tersebut dan Mana yang tiba-tiba saja berhenti meniup..

“Aku mencintaimu, Nino..” Ucap Sari.

“Ini.” Bingung Nino.

“Bagaimana?” Tanya Mana.

“Mana.” Jawab Nino.

“Aku juga mencintaimu, Nino..” Ucap Mana.

“Aku pun mencintaimu, Nino..” Ucap Mala.

“Maafkan aku.. Tapi kalian semua hanya sebatas teman..” Ucap Nino.

“Tidak lebih?” Tanya Mala.

“Tidak lebih.” Jawab Nino.

“Begitu ya. Maafkan aku.” Tangis Mala.

Kemudian, Mala pergi dengan tangis meninggalkan ruangan tersebut dan teman-temannya disana..

“Kamu ini memang keras ya.” Kata Sari.

“Maaf.” Kata Nino.

“Iya, tidak apa-apa, aku dapat menerimanya, kok.” Kata Sari.

“Terima kasih.” Kata Nino.

“Iya, cinta itu seperti sebuah gelembung.” Kata Sari.

Nino memandang terdiam mengarah pada pergerakan gelembung-gelembung yang sudah hilang ditiup oleh Mana..

“Sangat indah..” Ucap Sari.

Mana meniup gelembung kembali dengan perasaan yang menggelora dengan merasa tekanan pada tolakkan hatinya..

“Aku harap kamu tidak akan melupakan kenangan kita.” Kata Sari.

Sari pergi meninggalkan ruangan itu dengan rasa bersalah pada dirinya yang tidak dapat termaafkan oleh dan bagi dirinya sendiri..

“Bagaimana dengan kamu, Mana?” Tanya Nino.

“Aku akan terus dan selalu disini.” Jawab Mana.

“Kenapa?” Tanya Nino.

“Karena gelembung-gelembung cinta..” Ucap Mana.

“Gelembung Cinta..” Ucap Nino.

“Iya, perasaan-perasaan yang pernah tersampaikan pada gelembung ini akan selalu tersimpan bersama putaran waktu yang terus dan selalu berjalan.” Kata Mana.

“Jadi?” Tanya Nino.

“Aku tidak akan meninggalkan ruangan ini, aku selalu menjaga perasaan ini bersama dengan gelembung cinta, agar perasaan ini tak pernah pudar dan selalu berada disini.” Jawab Mana.

“Mana. Kamu tidak seperti dengan biasanya.” Kata Nino.

“Tidak tahu alasannya, bila mengatakan hal ini membuatku lepas dengan diriku yang biasanya.” Kata Mana.

“Begitu, cinta itu rumit ya.” Kata Nino.

“Mungkin..” Ucap Mana.

“Mengapa mungkin?” Tanya Nino.

“Karena bagi orang sepertimu tidak mengerti soal cinta.” Tangis Mana.

“Mana..” Ucap Nino.

Mana memukul dan menepuk bahu Nino dengan lembut..

Nino mengamati gelembung-gelembung yang beterbangan dari bilik jendela tersebut, perasaan-perasaan yang pernah tersampaikan oleh seseorang menjadi pesan dalam gelembung tersebut..

Sejak pada hari tersebut, Nino tidak bersama lagi dengan ketiga teman dekatnya tersebut, tapi Nino tidak akan pernah melupakan ikatan yang pernah mengikat dan mempertemukan mereka berempat dalam sebuah Ruangan bersama perasaan yang diterbangkan dengan gelembung cinta..


 Gelembung Cinta

Postingan terkait:

8 Tanggapan untuk "Gelembung Cinta"

  1. Ternyata sang admin grup adalah penulis yang handal. Sungkem mas sama tulisanmu. Mantappp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak, saya ikut senang mendengarnya tersebut, tapi tetap apa yang saya tulis selalu ada rasanya juga kekurangan dan kelebihan tersendiri, jadi sangat dibutuhkan kritikan dibandingkan pujian, untuk mendorong maju depan.. :)

      Hapus
  2. semakin banyak gelembung cinta pasti akan menjadi bola cinta, sehingga suatu pasangan akan semakin awet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, pandai saja membuat kata-kata seperti biasa, tapi Pak Saliman kiranya cerita ini, tidak seperti yang terbayangkan, cerita ini menceritakan beberapa tokoh dari perempuan saling mengutarakan perasaannya namun perasaan tersebut akhirnya hanya tersimpan bagaikan sebuah gelembung cinta.. :)

      Hapus
  3. Indah sekali mas tulisannya dan mengandung arti yang dalam banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sekali, syukurlah jika kalau begitu, semoga ceritanya dapat terhibur.. :)

      Hapus
  4. hmm, hampir semua penulis jman skrg cwok ya.. termasuk mas jefry :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, mungkin saja, tapi ada banyak juga mungkin yang cewek, cuma belum saja keterlihatan dengan segala kemampuan yang dimilikinya tersebut, dengan kata lain, terkenal bagi kalangan blogger dan lainnya.. :)

      Hapus

Budayakan Membaca Sebelum Berkomentar